Dari Belanja Sosial ke Investasi Sosial: Pembelajaran Pencegahan Stunting Berbasis Komunitas di Kelurahan Alak, Kota Kupang
Ringkasan pembelajaran (lesson learned) — Program Pencegahan Stunting Terintegrasi Berbasis Komunitas | PT Pelabuhan Indonesia (Persero) & Yayasan Social Investment Indonesia (YSII), 2025
Ditulis Oleh : Lilik Sugirahayu, Dita Apriani
Stunting sering dibaca sebagai persoalan kesehatan. Padahal, dari sudut pandang pembangunan, ia adalah persoalan investasi — atau lebih tepatnya, persoalan gagal berinvestasi. Anak yang tumbuh stunting akibat kekurangan gizi kronis pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan mengalami hambatan kognitif yang sebagian permanen dan risiko penyakit degeneratif yang lebih tinggi. Pada skala nasional, stunting dan malnutrisi diperkirakan menggerus 2–3% Produk Domestik Bruto setiap tahun. Membiarkan seorang anak tumbuh stunting bukan sekadar kelalaian sosial, melainkan kegagalan mengamankan aset paling berharga sebuah bangsa yaitu modal sumber daya manusia.
Dari cara pandang inilah Program Pencegahan Stunting Terintegrasi Berbasis Komunitas di Kelurahan Alak dijalankan sebagai wujud Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pelindo bersama YSII. Sejak awal program tidak dirancang sebagai bantuan amal yang habis begitu diserahkan, melainkan sebagai investasi sosial yaitu penanaman sumber daya yang diharapkan menghasilkan imbal hasil berupa perbaikan gizi anak, penguatan kelembagaan lokal, dan kemandirian masyarakat yang terus bertumbuh setelah program usai.

Mengapa berbasis komunitas adalah logika investasi
Perbedaan antara belanja sosial dan investasi sosial bukan pada besaran dana, melainkan pada apa yang tersisa ketika dana itu habis. Belanja sosial menyerahkan barang dan menciptakan penerima, sedangkan investasi sosial membangun kemampuan dan menciptakan pelaku. Pendekatan berbasis komunitas dipilih agar sumber daya bertransformasi menjadi aset, bukan menguap menjadi konsumsi. Konteks mempertegas urgensi bahwa NTT mencatat prevalensi stunting 37,9% (SKI 2023), tertinggi kedua di Indonesia, dan Kota Kupang 18,8% atau setara 4.233 balita. Di wilayah dengan kerentanan tersebut, program yang menciptakan ketergantungan justru akan memperdalam masalah.

Empat Pilar Pencegahan Stunting
Investasi yang bijak tidak menaruh seluruh modal pada satu instrumen. Program menempatkan sumber dayanya pada empat pilar yang saling menopang, diantaranya :
- Advokasi & sinkronisasi lintas pihak — investasi pada ekosistem. Langkah pertama bukan intervensi, melainkan konvergensi yang menyatukan pemerintah kelurahan, kecamatan, Puskesmas, Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Provinsi NTT, akademisi, dan tokoh masyarakat melalui Multistakeholders Discussion. Investasi sosial oleh korporasi hanya akan berkelanjutan bila ditautkan pada sistem pemerintah yang lebih permanen, bukan berdiri sendiri di sampingnya. Konvergensi bukan formalitas administratif, melainkan pondasi yang menentukan apakah aset lain dapat bekerja.
- Penguatan Posyandu — investasi pada infrastruktur pelayanan. Program memperkuat 10 Posyandu yang sudah ada, bukan membangun yang baru. Hal ini menjadi keputusan investasi yang penting, karena membangun di atas institusi yang sudah hidup jauh lebih hemat dan lebih tahan lama daripada mendirikan yang baru dari nol. Penguatan dilakukan pada dua sisi. Pada sisi manusia, kapasitas kader ditingkatkan melalui pelatihan keterampilan dasar pelayanan Posyandu. Pada sisi sarana, Posyandu dilengkapi alat antropometri standar berupa timbangan digital, stature meter, alat ukur lingkar lengan dan kepala yang menjadi kunci deteksi dini risiko stunting.
- Peningkatan pengetahuan — investasi pada modal manusia. Melalui edukasi risiko pernikahan dini bagi remaja, senam ibu hamil, kelas parenting pola asuh, workshop 1000 Hari Pertama Kehidupan, dan kunjungan rumah (home visit); program menanamkan pengetahuan pada titik-titik paling menentukan siklus stunting yaitu mulai dari calon pengantin, ibu hamil, hingga ibu dengan anak di bawah dua tahun. Yang membuat investasi ini berbuah adalah pendekatannya yang lebih personal melalui home visit. Kader Posyandu mampu berperan menjadi peer educator ini adalah imbal hasil yang menggandakan dirinya sendiri (compounding return), menjadi mekanisme penyebaran dampak yang paling murah dan paling tahan lama dan menjadi benih kemandirian program.
- Ketahanan pangan keluarga — investasi pada aset produktif. Pilar ini menjadi investasi yang menyasar akar ekonomi masalah. Ketika keluarga dapat menanam sendiri pangan, mereka tidak hanya mengakses gizi lebih murah, tetapi juga menghemat belanja rumah tangga. Pemanfaatan pangan lokal seperti kelor, ikan, dan umbi juga menjadikan intervensi ini berakar pada budaya dan sumber daya setempat bukan bergantung pada pasokan dari luar. Didukung dengan praktik pengolahan pangan lokal menjadi menu makanan yang lebih bervariatif dan bergizi, telah mengubah pandangan masyarakat tentang citra pangan lokal.
Pembelajaran pendekatan berbasis komunitas
Prinsip yang menyatukan keempatnya adalah komunitas bukan penerima, melainkan ko-investor. Warga menginvestasikan waktu, tenaga, pengetahuan lokal, dan kepercayaannya. Justru karena mereka ikut berinvestasi, mereka merasa ikut memiliki dan itulah yang membuat hasilnya bertahan dan berkelanjutan. Rasa memiliki lahir dari keterlibatan, bukan dari sosialisasi pada awal program. Kehadiran fisik pendamping program di lapangan membuktikan bahwa investasi sosial ini bukan sekadar penyaluran dana, tetapi telah membangun kepercayaan dan memperkuat keberadaan program maupun perusahaan.
Kepuasan tinggi dan semangat kader yang luar biasa tetap tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan bila kendala ekonomi dan lingkungan tak teratasi. Pendekatan berbasis komunitas memberdayakan warga untuk melakukan yang ada dalam kendali mereka seperti menanam, memasak, mengukur, mengasuh tetapi tidak dengan sendirinya menghapus hambatan di luar kendali mereka, misalnya perekonomian keluarga yang mempengaruhi daya beli untuk pemenuhan gizi yang seimbang bagi balita. Pemberdayaan sejati menuntut kedua sisi ditangani sekaligus.

Imbal hasil yang terukur
Sebuah investasi diukur dari imbal hasilnya, dan di sinilah program menunjukkan bukti paling meyakinkan. Selama periode intervensi terjadi penurunan pada :
- Balita underweight berkurang 64%, dari 42 menjadi 15 balita.
- Balita “T” (berat badan tidak naik saat ditimbang) berkurang 57%, dari 236 menjadi 101 balita.
Penurunan angka balita underweight dan balita T menandakan bahwa lintasan menuju stunting berhasil dibelokkan sebelum terlambat.
Penutup : menanam yang terus tumbuh
Program di Kelurahan Alak, Kota Kupang membuktikan bahwa pencegahan stunting paling tepat dipahami sebagai investasi sosial, bukan belanja sosial. Nilai sejatinya tidak diukur dari besarnya dana yang dibelanjakan, melainkan dari daya yang tumbuh dan bertahan pada komunitas setelah investasi berakhir. Stunting adalah persoalan lintas generasi, dan investasi terbaik untuk melawannya adalah investasi yang mengajarkan komunitas menanam dan merawat kapasitasnya sendiri. Karena pada akhirnya, warisan sebuah program bukanlah apa yang ia berikan, melainkan kemampuan yang ia tinggalkan.
Leave a Comment