Investasi yang Tumbuh dari Ruang Kelas
Belajar dari pendampingan tiga SD Barunawati menuju Sekolah Adiwiyata melalui lensa investasi sosial dan pemberdayaan komunitas.
Ditulis oleh : Lilik Sugirahayu, Anti Ahsanti
Dalam kerangka investasi sosial, keberhasilan sebuah program tidak diukur dari seberapa banyak fasilitas yang dibangun, melainkan dari seberapa besar kapasitas yang tumbuh dan tetap bekerja setelah pendampingan berakhir. Prinsip inilah yang memandu Yayasan Social Investment Indonesia (YSII), dengan dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pelabuhan Indonesia (Persero), ketika mendampingi SD Barunawati III Jakarta, SD Barunawati IV Jakarta, dan SD Barunawati Surabaya menuju status calon Sekolah Adiwiyata.
Alih-alih memperlakukan sekolah sebagai penerima bantuan, program ini menempatkannya sebagai mitra yang diberdayakan. Inti dari status Adiwiyata adalah Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (Gerakan PBLHS) yang merupakan sebuah aksi kolektif yang sadar, sukarela, berjejaring, dan berkelanjutan. Intervensi berbasis komunitas bekerja ketika sekolah merasa memiliki program itu. Peran pendamping bukan mengerjakan melainkan memfasilitasi, membangun kapasitas, dan membuka jejaring. Pendekatan ini memandang setiap rupiah dan setiap jam pendampingan sebagai modal yang ditanam untuk menghasilkan perubahan yang bertahan, bukan bantuan yang habis terpakai. Empat pembelajaran berikut memperlihatkan bagaimana sebuah investasi sosial menumbuhkan hasilnya dari ruang kelas.

1. Berinvestasi pada Kepemilikan, Bukan pada Fasilitas
Pemberdayaan sejati dimulai dengan memindahkan posisi warga sekolah dari objek bantuan menjadi pelaku perubahan. Program tidak diawali dengan pembangunan fisik, melainkan dengan membangun struktur kepemilikan lokal. Setiap sekolah membentuk Tim Adiwiyata dengan enam divisi kerja dan melibatkan siswa sebagai Kader Adiwiyata. Sekolah menyusun rencananya sendiri berdasarkan analisis potensi dan masalahnya, dibekali lokakarya sebelum fasilitas datang, lalu dihubungkan dengan mitra seperti Dinas Lingkungan Hidup, bank sampah, dan komunitas sekitar. Jejaring ini adalah modal sosial yang memperkuat, bukan menggantikan peran sekolah.

2. Mengubah Input Menjadi Aset : Perilaku Ramah Lingkungan yang Berhasil Diadaptasi
Bantuan yang diberikan sekali mudah menguap, namun sebuah investasi baru bermakna ketika berubah menjadi kebiasaan yang terus menghasilkan. Di ketiga sekolah, warga mulai memilah sampah, mengompos sisa makanan, membuat ekoenzim dari kulit buah, dan menyulap botol bekas menjadi pot. Air buangan AC ditampung untuk menyiram tanaman, sementara aturan energi dibuat sesederhana mungkin seperti cukup satu pendingin per kelas dan suhu AC minimal 24°C, dari kebiasaan sebelumnya di bawah 20°C. Pembiasaan ini menempel karena tiga hal yaitu pembiasaan sederhana, lingkungan fisik yang mendukung, dan manfaatnya kasat mata bagi anak. Berbeda dengan bantuan barang yang nilainya menyusut seiring waktu, kebiasaan yang tertanam justru menguat setiap kali diulang. Setiap kebiasaan yang berakar adalah aset kecil yang terus memberi imbal hasil tanpa biaya tambahan, inti dari investasi yang efisien.

3. Dari Kebiasaan ke Karakter: Menumbuhkan Anak yang Peduli Lingkungan
Perilaku ramah lingkungan di sekolah tidak berhenti sebagai rutinitas, tapi sebagai pintu masuk pembentukan karakter. Dan tanda-tanda pembentukan karakter itu paling terlihat bukan saat anak diperintah, melainkan saat mereka bertindak atas inisiatif sendiri. Di SD Barunawati III Jakarta, sejumlah siswa mulai mengamati stiker jenis sampah sebelum membuang, bahkan bertanya kepada wali kelas ketika ragu. Ini adalah momen kecil, tetapi bermakna besar dimana anak berhenti sejenak untuk berpikir sebelum bertindak. Siswa pun mulai saling mengingatkan soal hemat energi, menandakan norma bergeser dari kepatuhan yang dipaksakan menjadi kesepakatan sosial yang dijaga bersama. Diperkuat integrasi Kurikulum Merdeka dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), kepedulian lingkungan menjadi bagian dari identitas anak.

4. Keberlanjutan Sebagai Ukuran Sesungguhnya dari Investasi Sosial
Ujian sebuah investasi sosial adalah apa yang tersisa setelah program berakhir. Fondasi terkuat yang ditanam program ini adalah pelembagaan dimana komitmen ramah lingkungan dikunci ke dalam visi-misi sekolah, kurikulum (KTSP), dan rencana anggaran, termasuk alokasi dana sebagai pendukung. Rekomendasi yang dirumuskan bersama sekolah juga secara sadar diarahkan pada daya tahan program, seperti pembinaan rutin kader; kemitraan dengan Dinas Lingkungan Hidup dan bank sampah; integrasi ke setiap kegiatan belajar-mengajar, serta sinergi lintas jenjang. Keterbatasan bukti bahwa keberlanjutan bukanlah kondisi yang sempurna, melainkan kemampuan untuk terus beradaptasi.

Penutup: Perubahan Dimulai dari Ruang Kelas
Menelusuri perjalanan tiga SD Barunawati menuju status Adiwiyata, satu benang merah tampak jelas yaitu perubahan lingkungan yang bermakna tidak dibangun dari fasilitas, melainkan dari manusia. Fasilitas hanyalah alat, yang menggerakkannya adalah tim yang merasa memiliki; kader yang bangga menjadi teladan; guru yang mengintegrasikan nilai ke dalam pelajaran; dan anak-anak yang mulai berhenti sejenak untuk berpikir sebelum membuang sampah.
Empat pembelajaran yang saling menopang : kepemilikan melahirkan kebiasaan, kebiasaan membentuk karakter, dan karakter yang dilembagakan menjadi budaya yang bertahan. Sekolah Adiwiyata pada akhirnya bukan tentang plakat penghargaan. Namun tentang generasi yang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari siapa mereka, seperti investasi yang manfaatnya seperti pohon yang mereka tanam hari ini, baru akan dinikmati sepenuhnya oleh yang datang kemudian.

Leave a Comment