Sustainable Livelihoods and Rural Development

Resensi Buku: Sustainable Livelihoods and Rural Development
Penulis: Ian Scoones | Penerbit: Practical Action Publishing (Edisi 2021)

Dalam dunia pembangunan pedesaan, nama Ian Scoones bukanlah sosok asing. Sebagai seorang peneliti senior di Institute of Development Studies (IDS), University of Sussex, Scoones telah mengabdikan hidupnya untuk menyelami berbagai dinamika agraria dan perubahan pedesaan, terutama di negara-negara berkembang seperti Zimbabwe. Buku ini, “Sustainable Livelihoods and Rural Development”, adalah buah dari lebih dari tiga dekade keterlibatannya secara langsung dalam riset-riset penghidupan, konflik tanah, serta kebijakan pembangunan. Dengan pendekatan yang reflektif dan berbasis pengalaman nyata, buku ini tidak hanya menjadi bacaan penting bagi akademisi, tetapi juga sangat relevan untuk para penggiat community development dan mahasiswa yang tertarik memahami akar dan kompleksitas pembangunan pedesaan.

Buku ini diterbitkan oleh Practical Action Publishing sebagai bagian dari seri Agrarian Change and Peasant Studies. Pada buku edisi 2021 ini hadir dalam format buku terbuka (open-access), sebuah langkah yang patut diapresiasi karena memungkinkan akses yang luas terhadap gagasan-gagasan kritis mengenai pembangunan yang berkeadilan sosial dan ekologis. Disusun dalam sembilan bab utama, buku ini menyajikan sebuah perjalanan intelektual yang kaya, mulai dari sejarah pendekatan livelihoods, kritik atas kerangka kerja yang ada, hingga tawaran baru yang menggabungkan pendekatan penghidupan dengan ekonomi-politik agraria.

Di bagian awal, Scoones mengajak pembaca menelusuri asal-usul pemikiran livelihoods. Ia menunjukkan bahwa pendekatan ini bukan sekadar warisan dari Chambers dan Conway di awal 1990-an, tetapi memiliki akar yang jauh lebih dalam, mulai dari etnografi kolonial, studi desa klasik, hingga pemikiran Karl Polanyi. Perspektif livelihoods berkembang dari keinginan memahami bagaimana orang—terutama di pedesaan—bertahan hidup, beradaptasi, dan merespon berbagai tekanan, baik ekonomi, ekologis, maupun politik. Di sinilah pendekatan penghidupan berbeda dengan pendekatan sektoral atau berbasis komoditas; ia melihat keseluruhan strategi bertahan dan membangun hidup yang digunakan masyarakat dalam dunia yang kompleks.

Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya menjembatani diskusi antara konsep-konsep teoretis dan realitas lapangan. Dalam bab-bab berikutnya, Scoones membahas keterkaitan antara penghidupan, kemiskinan, dan kesejahteraan. Ia menekankan bahwa kemiskinan tidak bisa dilihat hanya sebagai kekurangan pendapatan, melainkan harus dipahami secara multidimensi, termasuk aspek kesehatan, pendidikan, pengakuan sosial, dan agensi individu. Di sinilah pentingnya menggabungkan pendekatan capability dari Amartya Sen, konsep wellbeing, dan berbagai metode partisipatif yang menangkap suara dan pengalaman masyarakat lokal. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi refleksi kritis terhadap indikator-indikator makro yang selama ini terlalu menyederhanakan kenyataan di lapangan.

Dalam perjalanannya, Scoones menunjukkan bahwa kerangka sustainable livelihoods framework yang selama ini banyak digunakan oleh lembaga pembangunan memiliki kelebihan dalam menyusun peta awal analisis. Namun ia mengingatkan bahwa jika digunakan secara mekanistik dan dilepaskan dari konteks sosial-politik, maka kerangka ini akan kehilangan daya kritisnya. Aset-aset yang disebut dalam kerangka—seperti modal alam, fisik, manusia, sosial, dan finansial—tidak berdiri dalam ruang hampa. Akses terhadap aset ini sangat bergantung pada institusi lokal, struktur kekuasaan, serta sejarah relasi sosial di suatu wilayah.

Dalam konteks ini, Scoones menekankan pentingnya memperluas pemahaman tentang institusi, bukan sekadar melihatnya sebagai organisasi formal seperti pemerintah desa atau koperasi. Institusi, dalam pengertian sosiologis, mencakup norma-norma sosial, praktik budaya, relasi kekuasaan, dan aturan tak tertulis yang mengatur siapa boleh mengakses sumber daya tertentu dan siapa yang tidak. Dengan memahami hal ini, intervensi pembangunan menjadi lebih tajam, kontekstual, dan berpihak kepada kelompok yang paling rentan.

Dalam bab tentang hubungan antara penghidupan dan lingkungan, Scoones menawarkan perspektif yang menantang pandangan konvensional. Ia memperkenalkan konsep non-equilibrium ecology, yang menolak gagasan bahwa ekosistem selalu menuju keseimbangan statis. Sebaliknya, lingkungan dipahami sebagai sistem dinamis yang terus berubah, sering kali karena interaksi sosial dan ekonomi. Dalam kerangka ini, keberlanjutan bukanlah soal menjaga kondisi alam tetap stabil, tetapi tentang kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan sambil tetap menjaga keadilan sosial dan ekologis. Pendekatan ini sangat penting di era perubahan iklim yang menciptakan tantangan baru bagi masyarakat pedesaan di berbagai belahan dunia.

Bab keenam menjadi titik balik penting dalam buku ini karena memperluas cakupan pendekatan penghidupan dari sekadar deskripsi strategi rumah tangga menuju pemahaman yang lebih luas tentang dinamika kekuasaan. Di sini, Ian Scoones dengan jelas menautkan pendekatan livelihoods dengan teori ekonomi-politik agraria, menunjukkan bahwa strategi penghidupan tidak dapat dipahami tanpa menelusuri konteks struktural yang lebih besar. Ia menekankan bahwa relasi antara negara, pasar, dan masyarakat menciptakan kondisi tertentu yang memengaruhi siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya, bagaimana hak atas tanah ditentukan, dan bagaimana kebijakan pertanian atau investasi dirancang. Dengan kata lain, penghidupan bukan hanya persoalan teknis atau manajerial, tetapi juga arena konflik antara kelompok sosial dengan kepentingan yang berbeda-beda.

Dalam kerangka ini, Scoones mengajak pembaca untuk melihat bahwa pendekatan penghidupan dapat digunakan sebagai alat analisis kritis untuk membongkar ketimpangan struktural. Pendekatan ini tidak berhenti pada pemetaan aset dan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi justru membuka jalan untuk mengkritisi bagaimana sistem ekonomi global dan lokal bekerja. Misalnya, ketika petani terpinggirkan oleh mekanisme pasar global atau ketika perusahaan besar mengambil alih lahan produktif, kita tidak hanya melihat “kehilangan akses” sebagai data statistik, tetapi sebagai proses politik yang terstruktur. Dengan demikian, Scoones memperkuat argumen bahwa analisis livelihoods harus selalu berani menanyakan: siapa diuntungkan, siapa dirugikan, dan bagaimana kekuasaan bekerja dalam mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan.

Selanjutnya, Scoones mengajak pembaca untuk berpikir lebih tajam dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang menjadi bagian penting dari pendekatan penghidupan yang diperluas. Ia menantang kita untuk melampaui deskripsi teknis atau evaluasi dangkal terhadap proyek pembangunan. Alih-alih hanya bertanya tentang “apa yang dilakukan” dalam suatu intervensi, kita diajak bertanya “untuk siapa”, “oleh siapa”, dan “dengan konsekuensi apa”. Pertanyaan seperti siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dari suatu kebijakan pertanian, atau bagaimana distribusi manfaat dari program konservasi dibentuk oleh relasi kuasa lokal, menjadi kunci untuk membuka dimensi politik dalam penghidupan. Dengan demikian, pendekatan ini menuntut kepekaan terhadap ketimpangan sosial yang kerap tersembunyi di balik retorika pembangunan.

Tak hanya soal kebijakan dan program, Scoones juga menggarisbawahi pentingnya memahami dinamika transformasi sosial akibat migrasi, pengiriman remitan, dan perubahan struktur keluarga pedesaan. Ia menunjukkan bahwa perubahan-perubahan ini tidak hanya berdampak pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga mengubah jaringan sosial, relasi antar generasi, serta tatanan nilai dalam masyarakat desa. Dalam banyak kasus, migrasi bukan semata strategi bertahan hidup, tetapi juga bentuk resistensi terhadap sistem yang mengekang pilihan ekonomi lokal. Oleh karena itu, pendekatan penghidupan yang diperluas harus mampu membaca tanda-tanda perubahan sosial ini secara cermat, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga dari perspektif budaya, politik, dan historis yang menyertainya.

Bagian metodologi dalam buku ini menjadi salah satu kekuatan tersendiri, terutama bagi mahasiswa, peneliti muda, dan praktisi pembangunan yang ingin memahami pendekatan penghidupan secara utuh. Ian Scoones tidak terjebak dalam dogma metode tunggal; sebaliknya, ia mendorong penggunaan pendekatan campuran (mixed methods) yang fleksibel dan kontekstual. Pendekatan ini mencakup kombinasi antara data kuantitatif dan kualitatif, pendekatan partisipatif, hingga teknik pemetaan sosial dan analisis jaringan. Scoones meyakini bahwa dalam studi penghidupan, tidak ada satu alat analisis yang mampu menangkap seluruh kompleksitas secara memadai, karena setiap konteks masyarakat membawa dinamika yang unik dan menantang.

Ia juga menekankan pentingnya triangulasi data sebagai cara untuk meningkatkan validitas temuan, sekaligus mengajak peneliti untuk sadar akan posisi dan bias mereka sendiri. Refleksi kritis terhadap peran peneliti, termasuk dalam pemilihan indikator, cara bertanya dalam survei, hingga cara menafsirkan data, menjadi bagian penting dalam metodologi penghidupan. Dalam konteks realitas sosial yang cair dan penuh nuansa politik, pendekatan yang sensitif ini sangat krusial. Bahkan, pertanyaan sederhana seperti “dari mana Anda memperoleh pendapatan?” bisa memunculkan kerentanan, ketakutan, atau justru strategi diplomasi dari responden. Oleh karena itu, metodologi penghidupan menurut Scoones bukan sekadar soal teknik, tetapi soal etika, sensitivitas budaya, dan keberpihakan kepada suara mereka yang sering terpinggirkan.

Dalam bab penutup, Scoones menyampaikan bahwa pendekatan penghidupan tidak bisa netral dari politik. Ia menawarkan empat dimensi politik penghidupan: politik kepentingan (siapa yang diuntungkan), politik individu (agensi dan subyektivitas), politik pengetahuan (siapa yang punya kuasa mendefinisikan), dan politik ekologi (bagaimana lingkungan dibingkai dan dimaknai). Dengan memperkenalkan dimensi ini, Scoones mengajak kita untuk menjadikan analisis penghidupan sebagai arena kontestasi wacana, bukan sekadar instrumen teknokratis dalam proyek pembangunan.

Buku ini tidak hanya penting secara akademis, tetapi juga memiliki implikasi praktis yang besar. Bagi para penggiat pembangunan komunitas, buku ini menawarkan panduan reflektif untuk merancang program yang berpijak pada realitas lokal. Sebuah proyek pertanian, misalnya, tidak cukup hanya menyediakan benih atau pelatihan teknis. Ia harus juga memahami struktur relasi gender di desa tersebut, konflik laten mengenai tanah, serta sejarah program pemerintah sebelumnya yang mungkin menciptakan ketidakpercayaan masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan yang ditawarkan Scoones, penggiat pembangunan dapat menyusun intervensi yang lebih bermakna dan berdampak jangka panjang.

Untuk mahasiswa, buku ini merupakan bahan ajar yang sangat berguna dalam mata kuliah pembangunan pedesaan, agraria, atau studi pembangunan. Bahasa yang digunakan cukup jelas dan sistematis, namun tidak kehilangan kedalaman analisis. Setiap bab bisa dijadikan bahan diskusi kelas, tugas reflektif, atau bahkan inspirasi untuk penelitian skripsi. Buku ini juga membuka peluang untuk mengeksplorasi keterkaitan antara isu-isu penghidupan dengan tema global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan migrasi.

Sementara itu, bagi peneliti, buku ini merupakan pijakan teoretis yang kokoh untuk merancang riset berbasis penghidupan. Scoones tidak hanya menyajikan kerangka analisis, tetapi juga menunjukkan batasannya. Ia mendorong penelitian yang tidak hanya deskriptif, tetapi juga interpretatif dan transformasional. Ia menyarankan agar riset-riset penghidupan tidak berhenti pada pemetaan strategi rumah tangga, tetapi menjelajah lebih jauh ke dalam struktur politik-ekonomi yang memproduksi kemiskinan, kerentanan, dan eksklusi.

Akhirnya, nilai utama dari buku ini terletak pada kemampuannya yang luar biasa dalam menjembatani berbagai dimensi analisis yang sering kali terpisah dalam studi pembangunan. Ian Scoones berhasil menghubungkan level mikro—yakni pengalaman hidup sehari-hari masyarakat desa dan strategi bertahan hidup mereka—dengan level makro yang mencakup struktur ekonomi-politik nasional dan global yang membentuk realitas tersebut. Ia mengajak pembaca untuk tidak terjebak pada analisis yang terfragmentasi, tetapi justru melihat bahwa kehidupan masyarakat lokal tidak pernah lepas dari pengaruh globalisasi, kebijakan agraria, pasar komoditas internasional, serta tren perubahan iklim. Dalam narasi Scoones, yang lokal bukanlah sesuatu yang terisolasi, melainkan bagian dari jaringan global yang kompleks dan terus berubah.

Dengan kerangka pemikiran yang terbuka dan reflektif, buku ini berhasil meruntuhkan sekat-sekat kaku antara dunia akademik dan dunia praktik. Teori tidak disajikan sebagai kebenaran yang mapan, melainkan sebagai alat berpikir yang harus terus diuji dan direvisi berdasarkan pengalaman konkret di lapangan. Begitu pula praktik pembangunan tidak dipandang sebagai kegiatan teknis semata, tetapi sebagai tindakan politis yang harus terus direfleksikan secara etis dan kritis. Karena itulah, Sustainable Livelihoods and Rural Development layak dijadikan bacaan wajib, bukan hanya bagi kalangan akademisi atau mahasiswa, tetapi juga bagi praktisi pembangunan, pembuat kebijakan, dan aktivis komunitas yang ingin mendorong transformasi sosial yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada rakyat kecil. Buku ini bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga menyalakan semangat untuk terus bertanya, menggali, dan bertindak.

Sebagai penutup, “Sustainable Livelihoods and Rural Development” adalah karya penting yang menghadirkan pendekatan yang lebih adil, reflektif, dan politis dalam melihat pembangunan pedesaan. Dengan bahasa yang lugas namun sarat muatan konseptual, buku ini berhasil mengubah cara kita memahami penghidupan bukan sebagai sekadar strategi bertahan hidup, melainkan sebagai medan perjuangan yang dipenuhi dinamika kelas, kekuasaan, dan harapan. Buku ini layak menjadi bacaan utama bagi siapa pun yang serius ingin memahami dan mengubah wajah pembangunan dari akar rumput. Ia bukan sekadar buku teori, tetapi rangsangan untuk berpikir dan bertindak dengan lebih cerdas, adil, dan manusiawi. [purnomo]

Scroll to Top