Resensi Buku: The Concept of Community from a Global Perspective

Ketika dunia menghadapi gelombang besar disrupsi sosial, krisis identitas, dan meningkatnya ketegangan antar kelompok, kata “komunitas” kembali menjadi kata kunci yang dielu-elukan dalam banyak wacana. Ia dihadirkan dalam berbagai proyek pembangunan, dipromosikan dalam kebijakan pemerintah, dan digunakan oleh perusahaan-perusahaan global yang ingin menunjukkan kedekatannya dengan masyarakat. Tetapi, seperti yang ditunjukkan secara tajam dalam buku The Concept of Community from a Global Perspective, komunitas bukanlah sesuatu yang netral, apalagi universal. Buku yang disunting oleh Niall Bond ini membuka lapisan-lapisan kompleks dari konsep komunitas, mulai dari akar sejarah pemikirannya hingga berbagai ekspresi kontemporernya dalam lintas budaya dan disiplin.

Diterbitkan oleh Brill pada tahun 2024, buku ini merupakan bagian dari seri History of European Political and Constitutional Thought. Niall Bond, editor buku ini, adalah akademisi dari University Lyon 2 yang telah lama mendalami pemikiran klasik Eropa, khususnya Ferdinand Tönnies. Buku ini merupakan hasil dari kerja kolaboratif para ilmuwan yang berasal dari beragam latar belakang keilmuan—filsafat, antropologi, linguistik, sejarah intelektual, estetika, dan studi komunitas global. Dengan demikian, buku ini menjelma menjadi kompendium yang luas dan mendalam untuk memahami apa itu komunitas, bagaimana komunitas diciptakan, dibayangkan, dijaga, maupun didekonstruksi dalam berbagai konteks sosial-budaya.

Kerangka dan Ruang Lingkup Buku

Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian besar, yang masing-masing menyajikan tema-tema sentral mengenai komunitas. Bagian pertama berfokus pada warisan klasik pemikiran komunitas, terutama melalui karya-karya Ferdinand Tönnies dan pemikir lain seperti Hegel, Marx, dan Durkheim. Bagian kedua mengeksplorasi ekspresi komunitas dalam dimensi kultural—bahasa, estetika, musik, dan humor. Sementara bagian ketiga membawa pembaca pada lintasan tafsir global, memperlihatkan bagaimana komunitas dihidupi dan dimaknai dalam konteks non-Barat dan pengalaman kontemporer.

Setiap bagian terdiri dari beberapa esai yang berdiri sendiri namun saling terhubung secara tematis. Pendekatan ini memungkinkan pembaca menelusuri kompleksitas komunitas tidak hanya sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai entitas sosial yang terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari, perdebatan politik, serta pergulatan budaya.

Bagian I: Warisan Pemikiran Klasik tentang Komunitas

Bagian pertama dari buku ini meletakkan dasar konseptual melalui penelusuran terhadap pemikiran klasik tentang komunitas. Ferdinand Tönnies menjadi tokoh sentral di sini. Dalam esai pembuka yang ditulis oleh Christopher Adair-Toteff, pembaca diajak memahami ulang dikotomi yang diperkenalkan Tönnies antara Gemeinschaft dan Gesellschaft. Komunitas, bagi Tönnies, adalah ekspresi dari kehendak esensial (Wesenwille), di mana manusia menjalin relasi berdasarkan kedekatan emosional dan tradisi bersama. Sementara masyarakat (Gesellschaft) adalah ruang kehendak reflektif (Kürwille), yang ditandai oleh kontrak, kepentingan, dan kalkulasi individual.

Daniel Alvaro dalam esainya mengembangkan pembacaan bahwa pemikiran Tönnies menyimpan ambivalensi. Ia bisa dibaca sebagai kritik terhadap rasionalisasi kehidupan modern, tetapi juga mengandung potensi konservatif yang bisa dimobilisasi untuk tujuan eksklusif. Ini diperkuat oleh telaah Alexander Wierzock mengenai bagaimana gagasan komunitas digunakan secara berbeda dalam konteks Jerman Timur dan Prancis. Di Jerman Timur, komunitas dikaitkan dengan solidaritas sosialisme, sementara di Prancis pasca-Revolusi, konsep komunitas justru dicurigai karena dianggap mengancam prinsip individualisme republikan dan universalitas hukum.

Niall Bond, dalam pengantar bagian ini, mengingatkan bahwa komunitas bukanlah ide murni yang lepas dari medan kekuasaan. Ia adalah “operator aksiologis” yang dapat dipakai untuk menyatukan dan memecah, membebaskan dan menindas. Dalam sejarahnya, komunitas telah digunakan untuk membangun rasa kebersamaan yang inklusif, tetapi juga telah dijadikan pembenaran untuk eksklusi, seperti dalam proyek Volksgemeinschaft (komunitas rakyat) ala Nazi Jerman.

Bagian ini memberi pembaca kesadaran historis bahwa komunitas bukan konsep polos yang bisa diterapkan begitu saja dalam kebijakan sosial. Ia memiliki jejak-jejak konflik ideologis dan moral yang kompleks.

Bagian II: Ekspresi Simbolik, Bahasa, dan Estetika Komunitas

Jika bagian pertama membawa pembaca pada warisan pemikiran klasik, maka bagian kedua menampilkan komunitas sebagai ruang simbolik dan ekspresi budaya. Jan Buts membuka bagian ini dengan analisis linguistik terhadap bagaimana kata “komunitas” digunakan dalam wacana publik, khususnya selama masa pandemi COVID-19. Ia menunjukkan bahwa istilah ini sering digunakan sebagai strategi retoris untuk menciptakan kesan kebersamaan, padahal realitas sosialnya penuh ketimpangan dan pengucilan. Komunitas, dalam konteks ini, menjadi bahasa kuasa yang tidak selalu jujur terhadap apa yang benar-benar terjadi.

Stéphane Vibert dan Rémi Astruc dalam dua esai terpisah mengeksplorasi bagaimana komunitas terbentuk melalui narasi, mitos, dan bahasa simbolik. Astruc menekankan bahwa komunitas membutuhkan cerita pengikat—baik cerita tentang asal-usul, penderitaan bersama, atau tokoh pengorbanan. Tetapi, narasi semacam ini juga rawan disalahgunakan untuk menciptakan “musuh bersama” yang perlu dikorbankan demi menjaga identitas kolektif. Ia menyebut ini sebagai bentuk “mitologi komunitas”, yang kerap kita temukan dalam wacana populis, nasionalis, dan agama.

Salah satu kontribusi paling menarik dalam bagian ini datang dari Elisabeth Bouzonviller, yang mengulas bagaimana komunitas adat di Amerika Utara menggunakan humor dan cerita rakyat sebagai strategi resistensi. Humor tidak hanya menjadi pelarian dari tekanan kolonialisme, tetapi juga menjadi cara komunitas menyusun ulang makna diri, menjaga martabat, dan membangun jejaring antar anggota. Humor menjadi “bahasa komunitas” yang khas, merayakan keberlanjutan identitas dan mengolok-olok kekuasaan yang menindas.

Bab penutup bagian ini ditulis oleh Bond sendiri, yang merenungkan peran musik dalam membentuk komunitas. Ia menunjukkan bahwa orkestra, paduan suara, dan ritme kolektif adalah bentuk-bentuk komunitas performatif yang menunjukkan bahwa kebersamaan bisa hadir dalam keberbedaan. Musik memungkinkan munculnya komunitas yang tidak homogen, tetapi harmonis dalam keberagaman.

Bagian III: Komunitas dalam Lintas Budaya dan Konteks Global

Bagian ketiga adalah bagian terpanjang sekaligus paling kaya secara perspektif. Di sini, pembaca diajak menjelajah berbagai ekspresi komunitas dari sudut pandang filsafat moral Afrika, sejarah komunalisme Asia dan Karibia, hingga strategi komunitas religius dalam menghadapi negara sekuler.

Thaddeus Metz menulis tentang Ubuntu sebagai filosofi komunitas di Afrika sub-Sahara. Prinsip dasar Ubuntu—”Aku adalah karena kita ada”—menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak berdiri sendiri, tetapi terbentuk dalam dan melalui relasi sosial. Dalam kerangka ini, komunitas bukan sekadar institusi, tetapi jalinan moral dan eksistensial. Metz berargumen bahwa pandangan ini bisa menjadi alternatif penting terhadap etika liberal yang individualistik.

Robert Kramm membahas eksperimen komunalisme radikal di Afrika Selatan, Jepang, dan Jamaika. Komunitas-komunitas ini, seperti desa kolektif, rumah bersama, dan proyek-proyek agraria kolektif, adalah bentuk perlawanan terhadap kapitalisme dan negara. Meski banyak dari eksperimen tersebut berumur pendek, mereka menawarkan pelajaran tentang kemungkinan hidup bersama yang didasarkan pada kerja sama, kesetaraan, dan solidaritas.

Astrid von Busekist, dalam kajian yang sangat menarik, membahas bagaimana komunitas Yahudi ortodoks membangun batas simbolik melalui konsep eruv. Garis eruv yang ditarik secara tidak kasat mata di lingkungan kota memungkinkan komunitas menjalankan hukum Sabat tanpa harus meninggalkan ruang publik. Ini adalah bentuk negosiasi ruang dan hukum yang unik antara komunitas religius dan negara sekuler.

Penutup bagian ini diisi oleh Andrew Vincent yang mengkritik retorika “komunitas rakyat” dalam politik populis kontemporer. Ia menelusuri bagaimana konsep “the people” dipakai untuk menyatukan kelompok mayoritas sambil mengucilkan mereka yang berbeda. Brexit dijadikan contoh bagaimana komunitas bisa direkayasa secara politis untuk menciptakan fiksi kebersamaan yang berbahaya.

Kontribusi, Keunggulan, dan Relevansi Buku

Buku ini memiliki banyak keunggulan. Pertama, pendekatannya yang multidisipliner memungkinkan pembaca memahami komunitas dari berbagai sisi: sejarah, etika, budaya, bahasa, dan politik. Kedua, perspektif global yang ditawarkan buku ini sangat penting di tengah dominasi pemikiran Eropa dan Amerika Utara dalam studi komunitas. Buku ini memberi ruang bagi pengalaman dan gagasan dari Afrika, Asia, dan Karibia.

Ketiga, buku ini tidak hanya menyuguhkan refleksi teoritis, tetapi juga menyajikan studi kasus yang konkret. Ini penting untuk menjembatani antara teori dan praktik, antara filsafat dan pembangunan sosial.

Rekomendasi untuk Pembaca dan Aplikasinya dalam Community Development

Buku ini sangat relevan bagi para peneliti, mahasiswa, fasilitator pembangunan, dan pembuat kebijakan yang terlibat dalam kerja-kerja pembangunan komunitas. Dalam konteks Indonesia, misalnya, banyak program pembangunan desa berbicara tentang penguatan komunitas, tetapi jarang mengkritisi asumsi di balik kata “komunitas” itu sendiri. Buku ini mengingatkan kita bahwa membangun komunitas tidak bisa dilakukan secara teknokratik semata. Ia memerlukan pemahaman terhadap sejarah lokal, bahasa simbolik, jaringan relasi sosial, serta konflik nilai yang ada di dalam masyarakat.

Untuk mendampingi buku ini, pembaca bisa merujuk pada karya-karya seperti:

  • Ferdinand Tönnies, Gemeinschaft und Gesellschaft
  • Robert Putnam, Bowling Alone
  • Amitai Etzioni, The Spirit of Community
  • Charles Taylor, Sources of the Self
  • Iris Marion Young, Justice and the Politics of Difference

Penutup

The Concept of Community from a Global Perspective adalah buku yang tidak hanya penting secara akademik, tetapi juga relevan secara sosial dan politis. Ia memberi peta intelektual yang luas tentang bagaimana komunitas dipikirkan, dirasakan, dan dijalani di berbagai penjuru dunia. Buku ini layak dibaca sebagai pengingat bahwa komunitas adalah sesuatu yang terus tumbuh dan dinegosiasikan—ia bukan bentuk jadi, tetapi proses yang selalu terbuka bagi makna baru. [purnomo]

 

Scroll to Top