Program Pencegahan Stunting Berbasis Komunitas
Prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan dan ini menunjukkan bahwa masalah stunting perlu ditangani segera. Indonesia menjadi salah satu negara yang menghadapi permasalahan stunting yaitu pada posisi urutan ke 5 di dunia dan urutan ke 2 di Asia Tenggara di bawah Myanmar dengan prevalensi stunting 35%. Sementara Indonesia memiliki prevalensi stunting diangka 24,4% (SSGBI, 2021).
Prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menurut hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 tertinggi kedua se-Indonesia setelah Provinsi Papua Tengah, yaitu sebesar 37,9%. Berdasarkan data elektronik pencatatan dan pelaporan berbasis masyarakat (e-PPGBM) hasil bulan timbang Juni 2024, tercatat sebesar 17,4% sementara target yang tertuang dalam dokumen RPJMD Provinsi NTT sebesar 12% sampai 10% pada tahun 2023. Permasalahan stunting di Provinsi NTT berkaitan dengan ketahanan ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat, selain mindset masyarakat. Selain itu, masalah stunting juga berkaitan dengan keterbatasan sarana dan prasarana penunjang kebutuhan hidup sehat masyarakat.
Yayasan Social Investment Indonesia (YSII) meyakini bahwa akar persoalan yang berlapis ini tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja. Melalui Program Pencegahan Stunting Terintegrasi Berbasis Komunitas, YSII menghadirkan pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan, bukan sekadar penerima bantuan. Program ini telah dijalankan di Kelurahan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur melalui kemitraan dengan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dalam kerangka program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Masalah stunting dipahami oleh YSII bukan hanya sebagai persoalan medis individu, melainkan sebagai isu pembangunan multidimensional yang perlu menjadi perhatian para pihak. Melalui program ini YSII juga mendorong kolaborasi multipihak dan lintas sektor, mulai dari BKKBN Provinsi, Dinas Kesehatan, DPPKB, Dinas Ketahanan Pangan, Puskesmas, Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan, hingga akademisi dan tokoh masyarakat agar setiap intervensi saling melengkapi dan tidak tumpang tindih. Melalui kerjasama multipihak, program pencegahan stunting berfokus pada 3 aktivitas utama, yaitu penguatan kelembagaan Posyandu, peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, dan peningkatan ketahanan pangan keluarga.

Gambar. Forum multipihak untuk mendorong pencegahan stunting di Kota Kupang
Penguatan Posyandu menjadi salah satu fondasi utama. YSII meningkatkan kapasitas kader melalui pelatihan keterampilan dasar mulai dari pemantauan tumbuh kembang, pengukuran antropometri yang akurat, hingga pencatatan dan pelaporan, serta melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Sejalan dengan itu, program secara aktif membangun pengetahuan dan kesadaran keluarga melalui kelas parenting, edukasi 1000 Hari Pertama Kehidupan, senam ibu hamil, edukasi risiko pernikahan dini bagi remaja, serta kunjungan rumah (home visit) untuk memantau dan mendampingi balita berisiko stunting secara intensif.

Gambar. Edukasi masyarakat tentang 1000 HPK dan Pola Asuh untuk pencegahan stunting

Gambar. Edukasi masyarakat tentang 1000 HPK dan Pola Asuh untuk pencegahan stunting
Untuk menjawab persoalan gizi secara berkelanjutan, YSII mengangkat kekayaan pangan lokal sebagai solusi yang terjangkau dan mudah diakses. Melalui pengembangan Rumah Pangan Mandiri dan peningkatan keterampilan pengolahan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal, keluarga didorong untuk memproduksi dan mengolah sendiri sumber gizi dari pekarangan mereka. Pendekatan ini tidak hanya memperbaiki asupan gizi balita, tetapi juga menumbuhkan kemandirian pangan dan ekonomi rumah tangga.

Gambar. Praktik Budidaya Pangan Keluarga

Gambar. Praktik Budidaya Pangan Keluarga
Leave a Comment